NASIB KONSUMEN DI INDONESIA
Monday, January 29th, 2007Pernahkan terpikir oleh kita, bahwa shampoo yang kita pakai itu palsu? padahal shampoo tersebut hanyalah shampoo biasa yang diproduksi massal di Indonesia (maksudnya bukan shampoo import yang harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah), akibatnya (menurut TV) setiap habis dipakai malah bikin kulit kepala menjadi gatal bahkan rambut menjadi rontok. Atau sempat kepikiran gak kalau beras putih pandan wangi yang kita makan sehari-hari itu dikasih pemutih dan wangi pandannya berasal dari essens pandan yang dicipratin ke beras saat proses penggilingan? Lumayan horror bukan? Tapi kurang lebih begitulah nasib para konsumen di Indonesia, menjadi korban dari ‘ketamakan’ atau malah ‘ketidak tahuan’ para pedagang? Wallahualam deh…
Belakangan ini koran2 & divisi pemberitaan televisi2 di Indonesia, banyak melakukan investigasi terhadap hal2 tersebut di atas (Transtv menjadi salah satu pioneernya), yang hasilnya kadang2 suka membuat gw terkaget-kaget. Kok kepikiran gitu lho?? Contohnya, selama ini kalau kita mau makan duren, mana kepikiran lah kalo duren yang kita beli di pinggir jalan itu bisa disuntik dengan cairan pemanis sama penjualnya…weleh….weleh…Kalau cuma mata pisau penjualnya yang diolesi cairan pemanis saat dipakai buat ‘nyolek’ buah duriannya saat konsumen mencoba, memang sudah beberapa kali gw denger. Makanya, sekarang kalau mau makan duren mendingan langsung beli di supermarket atawa toko buah yang kira2 terpercaya…hehehe kecuali kalo lagi mudik ke Palembang or Bengkulu, di mana duren nyaris tidak ada ‘harganya’ alias muraaahhhh banget (bahkan kalo lagi musim, di Bengkulu duren 1 pick up cuma dihargai 70 rebu ckckck) Malahan pernah lho Gw & tante gw yg di Manna (Bengkulu selatan) "lempar2an" uang (untung bukan lempar2an duren hihihi….) sama pemilik duriannya, gara2 dia gak mau dibayar (masih sodara jauh soalnya). Tapi kita gak enak ati, soalnya kita udah makan 20 biji lebih plus masih bawa pulang semobil durian pula. Walaupun akhirnya saat itu diambil jalan ‘tengah’ yaitu kita bayar sedikit aja (kita gak tega kalau gratis, soalnya sodara kita itu seorang petani yang sederhana). Eh…kok jadi ngelatur ngomongin duren sih?…hihihi
Terus apalagi ya….emmm….Fanta & aneka sofdrink lainnya juga ada yg dipalsuin, terus tabung gas juga banyak yang disedot isinya (istilahnya di sini elpiji ‘kentut’….) sehingga isinya berkurang, dan untuk mengisi selisih beratnya tersebut, tabung gas di isi air sehingga pas ditimbang beratnya sama dengan yang tertera di tabung.
Kalau penggunaan formalin buat tahu, bakso, ikan asin & ikan segar sudah cukup horror, ternyata ada lagi yang sama horrornya lho yaitu ayam tiren (mati kemaren..alias ayam bangkai), daging celeng yang dijual di pasar dengan ‘label’ daging sapi, daging sapi glonggongan (sebelum disembelih, disemprotkan air pake pompa ke mulut sapi hingga sapinya ‘mengembung’ dan baru dipotong hingga nanti saat ditimbang daging sapi akan lebih berat) yang menurut gw sangat SADIS sekali !!! ngelihat hasil liputannya di tv (by hidden camera of course) sungguh sangat menyedihkan, sampai mau nangis ngeliat sapinya menggelepar-gelepar.
Saat isu formalin mengemuka, pemerintah memang turun tangan. Hingga saat ini penggunaan formalin untuk pengawetan makanan sudah agak terkendali (belum bisa dikatakan tidak ada lagi). Kemudian beberapa pedagang & pemasok daging celeng & daging sapi glonggongan juga ada yang ditangkap. Tapi apakah masalah selesai? sepertinya belum….setiap hari ada aja contoh2 kasus baru yang tetap bikin gw tercengang-cengang. Kok ada aja ya ide2 nakal dari orang yg tidak bertanggung jawab guna meraih keuntungan tapi dengan mengorbankan keselamatan & kesehatan orang lain?? Apa ini pertanda bahwa orang Indonesia sebenarnya sangat kreatif, tapi salah kaprah dalam menggunakan kreativitasnya…hehehe
Tinggal sekarang kita sebagai konsumen harus extra waspada, seperti kata Bang Napi di acara Sergap RCTI …Waspadalah….waspadalah!!!