Archive for February, 2007

DAGELAN ala BIROKRAT INDONESIA

Wednesday, February 21st, 2007

Alkisah di Negaraku tercinta Indonesia, beberapa hari yang lalu seorang Mensesneg (yang pasti semua tahu namanya dong, secara baru beberapa bulan yang lalu juga namanya banyak disebut2 sama tabloid gosip & infotainment karena kasus perkawinan ke-2nya yang lumayan  heboh dengan seorang wanita muda cantik blasteran Japan-Philipine hihihi…) diperiksa oleh KPK karena kasus penunjukkan langsung dalam tender pengadaan alat sidik jari di Departemen Hukum & perundangang-undangan (sebelum manjadi mensesneg beliau menjabat Menteri Hukum & Perundang-undangan. Sekarang sih namanya jadi Departemen Hukum & Ham). Biasa toh ganti Presiden, ganti menteri dan bahkan di sini nama departemennya juga suka diganti-ganti. Ada yang dilikuidasi, ada yang di’merger’ bahkan ada yang di-split. Udah kayak bank aja ya? hehehe…..

Dalam kasus penunjukkan langsung tersebut, katanya negara dirugikan sekitar Rp 6 milyar. Karena dalam pengadaan alat pemindai sidik jari tersebut, DepHukHam langsung menunjuk suatu perusahaan tanpa ada tender terlebih dahulu. Biasanya untuk proyek pengadaan suatu barang atau jasa di pemerintah (baik departemen, BUMN dll) harus melalui sebuah tender terbuka. Hal ini dilakukan, karena hal tersebut berpotensi besar untuk terjadinya tindak korupsi. Namun demikian, ada beberapa pengecualian, bahwa penunjukkan langsung dalam suatu tender dimungkinkan selama hal itu menyangkut hal ‘urgent’ yang ‘top secret’. (ada peraturannya, tapi maap dakyu lupa nomernya….hehehe)

Sehari setelah pemeriksaan Mensesneg di KPK, beliau mengeluarkan statement yang intinya berbunyi, "Kalau tindakan penunjukkan langsung tersebut dianggap korupsi. Silahkan KPK memeriksa ketuanya sendiri karena dalam proyek pengadaan alat penyadapan di KPK, ketua KPK telah menunjuk langsung sebuah perusahaan tanpa mengadakan tender terlebih dahulu"

Heboh….langsung heboh….semua pihak langsung membahas statement mensesneg tersebut. Dari mulai koran, news program, bahkan beberapa kali diadakan acara bincang2 di TV maupun radio yang membahas hal tersebut. Ckckckc…. 90% orang menyatakan bahwa pernyataan Mensesneg itu emosional, gegabah bahkan seperti lempar batu sembunyi tangan, menepuk air di dulang atau membuang garam di laut (btw…nyambung gak ya peribahasanya? *RAGU-RAGU* maap ya Pak Komar…(guru bahasa Indo gw waktu SMA). Intinya ada pihak mengatakan bahwa Yusril (keluar juga deh namanya…hihihi) panik dan menemukan jalan buntu sehingga menyerang balik ketua KPK.

Beberapa hari kemudian ketua KPK balik mengeluarkan statement "Proses penunjukkan langsung yang dilakukan KPK dalam pengadaan alat penyadapan tersebut telah mendapat izin LANGSUNG dari Presiden. Selain karena waktu yang kurang untuk melakukan tender, tetapi lebih utamanya lagi karena proyek itu bersifat sangat rahasia" (ya iyalah, namanya juga mau ‘menyadap’ masak terang2an. Yang ada malah nanti ketahuan!)

Mensesneg pun kembali menyahut, bahwa proyek pengadaan sidik jari di DepHukHam pun mepet waktunya sehingga tidak mungkin dilakukan dengan tender terbuka. (kalau menurut gw siy, tender pemindaian sidik jari itu harusnya dilaksanakan dengan tender terbuka saja) Adu argumen pun kembali mencuat, kedua pihak saling menyerang balik, pihak lain (diluar keduanya) ‘menyiramkan bensin’ sehingga situasi bertambah panas dan gw si rakyat jelata cuma geleng2 kepala dengan prihatin. Maluuu…… pejabat tinggi kok kayak gitu! Rugi kita bayar pajak mahal2 buat menggaji mereka.

Akhirnya Presiden pun gerah karena namanya terus dibawa-bawa. Kemaren melalui juru bicaranya Presiden mengeluarkan statement "Penunjukkan langsung tersebut memang atas persetujuan Presiden, tetapi itu semua atas rekomendasi dari saudara mensesneg. Karena proyek tersebut menyangkut rahasia negara" Nah lho… berarti kan kalo gitu mensesneg malah ‘membuka’ rahasia jabatannya sendiri plus juga negara. Secara itu memang tampaknya sebuah proyek rahasia guna menjerat para koruptor.

Tadi pagi gw baca koran, yang head linenya statement dari dari mensesneg yaitu,"Saya tidak menuduh ketua KPK korupsi. Tetapi saya hanya memberi satu contoh kasus bahwa penunjukkan tersebut memang dimungkinkan berdasarkan peraturan yang ada." Dasar lawyer…hihihi ada aja caranya berkelit.

Ya begitulah potret para birokrat negara kita tercinta. Suka menunjuk ‘hidung’ orang tetapi tidak mau jika dirinya ditunding korupsi. Kalau sudah begini, yang untung para koruptor yang masih banyak berkeliaran di luar sana. Secara para pejabat yang seyogyanya menangkap mereka justru saling bertarung untuk saling menyalahkan. Benar-benar DAGELAN!!!

NOTE: Ini bukan Legal Opinion lho….hehehe

CERITA BAHAGIA Zidan & Syifa

Tuesday, February 13th, 2007

Teman-teman (sesama blogwalker) pasti kenal kan sama Almarhumah Bunda Inong (www.zidansyifa.blogspot.com) ? ( gw sayangnya tidak sempat berkenalan dengan beliau saat almarhumah masih ada) Tapi membaca blognya telah membuat gw merasa mengenal Almarhumah dengan baik.. (sok akrab hehehe….) Karena di sana banyak cerita dari seorang Bunda di sebuah keluarga kecil yang bahagia. Tapi sayangnya, Sang Pemilik kehidupan telah memanggil Bunda terlebih dahulu saat kedua anaknya Zidan & Syifa masih kecil2.

Kemaren gw iseng2 buka Blognya Bunda, eh…ada sebuah berita bahagia di SBnya…ayah haris (suami Bunda) menikah lagi. Yang bikin gw sangat gembira, menikahnya dengan Tante Neng adik Almarhumah Bunda Inong. Alhamdulillah…..akhirnya Zidan & Syifa punya Ibu lagi. Yang pastilah sangat mencintai mereka…..dan pasti sama besar cintanya dengan cinta sang Bunda.

TIPU MENIPU…..

Thursday, February 8th, 2007

Kemarin siang gw menerima telepon, dari seseorang yang mengaku bernama Indra Gunawan dari kantor bea cukai. Bingung dong gw, walaupun memang bisnis kantor gw berkaitan erat dengan Bea Cukai tetapi biasanya semua urusan ‘tetek bengek’ pabean diurus oleh anak perusahaan kantor gw yang bermarkas di TanjungPriok. Walaupun bingung, gw terima aja deh tuh telepon

“Halo, bisa bicara dengan Ibu Irma?” kata si ‘Indra Gunawan’

“Saya sendiri, ada apa Pak?”

“Begini Bu, saya diperintahkan oleh Dirjen Bea Cukai Bapak Nursupriadi yang minta supaya Ibu menghadap ke bapak Dirjen. Sebelumnya Ibu silahkan langsung menghubungi Bapak Nursupriyadi di No.0816779758.” jawabnya

Dirikyu langsung bingung, tidak ada angin tidak ada hujan (Cuma perumpaan.. .hihihi… soalnya sekarang lagi banyak hujan dan banjir pula di jakarte) Dirjen Bea Cukai meminta gw untuk menghadap. Buat apaan???? Tapi tunggu sebentar…kok nama Dirjennya tidak familiar yah?? Kayaknya gak pernah denger tuh nama….(secara gw hobi berat baca Koran & nonton berita TV, dan sepertinya nama itu amat sangat tidak pernah muncul di media mana pun). Dan nama Dirjen Bea Cukai sepertinya bukan itu deh!

"Keperluannya apa ya Pak?" tanya gw ogah-ogahan.

"Untuk lebih jelasnya lebih baik Ibu menghubungi langsung Bapak Dirjen Nursupriyadi di nomer yang tadi."

"Iya Pak, tapi kan saya perlu tahu keperluannya untuk apa!" seru gw.

"Makanya Ibu harap segera hubungi Bapak Dirjen." katanya lagi.

Sutralah…yang ada alamat bakal ada debat kusir nih, langsung aja gw jawab "Oke deh Pak, nanti kalo ada waktu saya hubungi."

"Baik Ibu, jangan lupa harap segera hubungi Bapak Dirjen!" ujar si ‘Indra Gunawan’ dengan nada sedikit memaksa.

"Oke deh Pak!"

"Selamat siang Ibu, Eeee…..selamat….bekerja kembali." katanya dengan gaya sok asyik ala penyiar radio AM jaman dahulu kala (ndesoooo…..banget!).

Telepon pun gw tutup. Ahhh….males banget! hari gini memang banyak telepon2 gelap yang mengaku sebagai orang suruhan /ajudan pejabat ini-itu yang buntut2nya ‘memeras’ dan minta ditransfer sejumlah uang. (Gw baca beberapa kasus di koran, yang bahkan penipunya mencatut nama menteri segala). Biarkan saja deh, cuekin aja! Nggak usah dilayanin.

Beberapa jam pun berlalu, sampai akhirnya gw ngobrol2 sama Bokap. "Pa inget gak siapa nama Dirjen Bea Cukai? kok lupa ya namanya!" tanya gw (masih sedikit penasaran soalnya).

Bokap langsung dengan semangatnya menjawab,"Bapak Anwar Suprijadi. Itu lho mantan Direktur Utama Perumka (Sekarang PT KAI) jaman dulu waktu kita masih tinggal di Bandung."

O iya…baru gw ingat, benar bapak Anwar Suprijadi adalah Dirjen Bea Cukai sekarang! (nama yang cukup familiar kan?)Terus siapa dong Nursupriyadi itu? hihihi…dasar penipu. Mbok ya lebih profesional gitu kalo mau nipu, at least survey dulu nama jelas orang yang mau ‘dicatut’.

Tapi karena iseng gw coba juga menghubungi Bapak ‘Dirjen’ di nomor 0816779758, "Selamat sore, bisa bicara dengan Bapak Nursupiyadi?"

"Iya saya sendiri," jawab suara di seberang. Suaranya orang lain lagi, alias bukan suara ‘Indra Gunawan’ yang nelpon sebelumnya.

"Bapak Dirjen Bea Cukai ya?" tanya gw dengan nada ‘melecehkan’ hihihi……abis sebel, kok ada ya orang kayak gini!

"Betul saya Dirjen Bea Cukai," jawabnya. Langsung gw tambah bete mendengarnya.

"Begini Bapak, nomor telepon Bapak ini sudah saya laporkan ke polisi. Bapak jangan ngaku2 deh sebagai Dirjen Bea Cukai."

"Ini siapa ya?" tanyanya sok tenang.

"Nggak perlu tahu siapa saya, yang penting Bapak siap2 saja karena sudah saya laporkan sama polisi." jawab gw sedikit emosional.

"O…silahkan…silahkan," tantangnya

Telepon pun langsung gw tutup. Wuih….salah strategi sebetulnya, mestinya gw pura2 nggak tahu aja ya kalo ditipu. Biar nanti bisa tahu maunya mereka itu apa. Tapi sutralah….ngabisin waktu dan energi aja melayani orang2 kayak gitu.

Sekarang ini penipuan dengan modus seperti di atas banyak terjadi. Mencatut nama pejabat buat memeras & menakut-nakuti orang yang ujung2 minta transfer sejumlah uang sudah beberapa kali gw baca & tonton di berita. Makanya kalo kita nggak merasa ada yang salah, ya…nggak perlu takut dong. Hari gini geto lho! Apalagi ternyata kenyataannya kita hanya coba ditipu sama penjahat ‘kelas teri’ seperti di atas itu…hihihi. Entahlah mereka percaya atau tidak dengan ‘ancaman’ gw kalo nomernya udah gw laporkan ke polisi. Paling mentok2nya nomer itu dibuang sama mereka, secara gampang banget kan buat beli nomer telepon baru saat ini.

Tapi setelah dipikir-pikir……gw jadi ikut2an ngebohong juga deh jadinya. Uppssss…!!!!

BANJIR…BANJIR

Monday, February 5th, 2007

JAKARTA KEBANJIRAN……biasaa…udah langganan, tapi tahun ini adalah banjir besar yang kembali berulang dalam siklus 5 tahunan. Dan ternyata oh ternyata (menurut penelitian pihak2 terkait) banjir kali ini 2 kali lipat dari banjir yang terjadi pada tahun 2002 kemarin…..hiks…hiks….hiks…sedih banget melihat orang2 pada mengungsi, terjebak 2-3 hari di rumahnya (dengan kekurangan makanan) sampai akhirnya dievakuasi sama tim SAR, kedinginan dan kelaparan. Up date terakhir (semalam di TV), banjir sudah menelan 30 orang korban tewas.

Sejak minggu lalu hujan lebat terus melanda Jakarta & sekitarnya (JABODETABEK). Tapi baru mencapai puncaknya pada hari Kamis (1 Februari) malam. Di mana pada malam itu hujan turun dengan sangat lebatnya dan TIDAK KUNJUNG BERHENTI sampai keesokan paginya. “Wah….pasti banjir deh!” gumam gw saat bangun pagi dan menatap keluar jendela. Bener aja pas nyalain TV semua isinya adalah berita banjir melanda ibukota. Kalau biasanya banjir selalu ‘langganan’ melanda kawasan bantaran kali ciliwung sekarang malah sudah masuk ke perumahan & perkampungan, cawang & kampung melayu terendam, bahkan di Ciledug  tinggi air bisa melebihi atap rumah.

Rumah gw di Depok Alhamdulillah tidak ikut kebanjiran, tapi akses dari Depok ke Jakarta itu yang cukup bikin gw bingung. Soalnya kalau lewat TB Simatupang, di turunan samping Dept. Pertanian air banjir sudah setinggi leher orang dewasa (jelas jalanan pasti ditutup), di prapatan Republika & Pejaten air dikabarkan sudah setinggi dada, berarti gw tidak bisa melewati rute yang biasanya. Alternatif satu2nya adalah lewat Pasar Minggu-Duren tiga-tegal parang-mampang, yang biasanya memang sudah macet dan pada hari Jumat kemaren menjadi macet total. Walhasil baru nyampe kantor jam 11 siang. Yah…sutralah daripada kelelep banjir!

Nyampe di kantor, harus menerima ‘kenyataan’ kalo internet putus total dan telepon mengalami gangguan. Karena STO Telkom di Gatot Subroto/Semanggi (yang melayani daerah Mampang) terkena banjir bahkan tenggelam dengan suksesnya…ckckck…akhirnya kita meeting doang, ngomongin soal PPH pasal 23 yang nge-betein itu. Tambah nggak semangat!! (maunya apa siy menteri keuangan & Dirjen Pajak itu? bikin peraturan baru tanpa sosialisasi dan langsung diberlakukan pula hanya dengan jeda 3 hari! ….maap jadi nggak nyambung sama topik banjir hihihi…). Tapi pengguna internet yang pakai akses Indosat baik2 saja tuh katanya…hiks…(*iri mode on*). Indosat memang oke ternyata (secara untuk HP dakyu pelanggan Indosat hehehe…), soalnya jaringan selulernya masih bekerja normal begitu juga XL. Sedangkan Telkomsel paraaah banget, nyaris putus total!

Untung akhirnya week end, jadi lumayan 2 hari nggak usah ke kantor. Walaupun sempat kecewa karena rencana berweek end ke Bandung gagal, sebab memang tidak disarankan keluar kota. Secara seluruh jalan tol macet total, bahkan tidak sedikit orang2 yang bermalam di atas mobil karena macet itu. Akhirnya gw dan Dini leyeh2 aja di rumah, nonton TV yang isinya semua tentang banjir. Ndilalah…pas jam 10 pagi air PDAM di rumah gw mati (pompa milik PDAM terendam banjir)….wah…ditunggu-tungggu sampe malem nggak nyala juga….hiks…ya sudahlah…nggak mandi seharian juga nggak apa2, untung libur….hehehe…tapi ketika sampe keesokan harinya air PDAM tidak kunjung mengucur,  gw & Dini pun sudah mulai gatal2 (jorok banget ya! Hihihi…) akhirnya pada sore harinya kami menyerah dan bergegas menuju ke rumah Oom gw yang tinggal sekomplek dan punya cadangan jetpump buat numpang mandi. Sampe di sana Tante gw sedikit ngomel, “Ya ampun kenapa nggak dari kemaren aja mandi di sini. Tahan amat sih 2 hari nggak mandi!” kami cuma nyengir seraya berkata “Ya…kalo cuma nggak mandi seharian siy tante, kita masih bisa bertahan” Tinggal tante gw geleng2 kepala aja…speechless. Sebetulnya di rumah kita ada persediaan air sedikit, tapi lebih diprioritaskan buat keperluan buang air, masak dan mandi Bo-Nyok (hasil pembokat gw ngangkutin air dari rumah tetangga) tapi karena gw&dini kalo mandi perlu banyak air, maka lebih bijaksana kalo kami numpang mandi aja. Kasihan pembokat gw ngangkutin airnya. Bokap & Nyokap gw kalo mandi (dalam keadaan emergency kayak gini) paling masing2 hanya menghabiskan air satu ember. Sedangkan gw bisa ngabisin air 4 galon aqua (berdasarkan pengalaman hihihi…tapi gallon hanya sebagai ALAT UKUR ya, bukan berarti gw pernah mandi pake air aqua lho!)

Ya…demikianlah, banjir kali benar2 dasyat. Semua kalangan mengalaminya, baik yang sudah biasa menjadi langganan banjir (daerah bantaran kali ciliwung) sampai di perumahan elit seperti menteng bahkan komplek menteri Widya Chandra juga ikut kebanjiran (biasanya Kebayoran baru nggak pernah tersentuh banjir, kecuali yang di daerah tarki). Semua orang pun  pada sibuk mengungsi, cuma perabotan ngungsinya aja yang beda. Kalo dari perkampungan biasanya pengungsi bawa2 kasur, kompor & perlengkapan memasak lainnya juga TV dan buntelan baju. Sedangkan kalo dari daerah yang lumayan elit, mereka biasanya bawa koper kecil atau bahkan cuma bawa telpon dan dompet doang. Di kelapa gading malah ada yang ngungsi sambil gaya mengayuh kano menuju ‘daratan’….hihihi beneran lho, sepupu gw ngelihat sendiri soalnya. Atau mungkin barangkali ada juga yang ngungsi sambil naik jetski, kesempatan kan? Kapan lagi bisa main jetski di depan rumah hehehe…. Tapi tujuan ngungsinya juga beda2 siy, yang mampu bisa nginep di ‘second home’ (biasanya kan ada orang2 yg punya rumah lebih dari satu), apartemen, atau hotel2 berbintang. (Untuk kalangan ini tentu saja tidak perlu disumbang). Tetapi yang kurang beruntung, biasanya mengungsi ke bangunan2 sekolah, rumah ibadah, pinggir jalan bahkan kuburan…..mereka ini yang sangat memerlukan uluran tangan kita. Untung sekarang banyak pihak yang mau menampung & menyalurkan bantuan kita, misalnya Televisi2 swasta, Parpol, LSM. Nggak perlu bawa2 kardus segala, cukup transfer via ATM juga bisa. 

Selama ini kalau Jakarta banjir, pasti Bogor deh yang ‘disalahkan’, dengan mengatakan banjir sebagai kiriman dari Bogor. Tapi banjir hari Jumat (2 Feb) itu murni dari hasil akumulasi hujan di Jakarta. Soalnya saat itu debit air di pintu air katulampa bogor & pintu air Depok masih dalam kategori normal. Baru pada hari Sabtu, debit air di katulampa & Depok telah lewat batas normal dan dapat dikategorikan siaga 1. Banjir Bandang pun mengancam Jakarta. Apalagi hujan terus menerus mengguyur Bogor & Depok. Sampai akhirnya pintu air terpaksa harus dibuka (Kata Tedi adik gw : “Release the Hell”), dan saat air hampir mencapai pintu air Manggarai, Sutiyoso dengan sok pahlawannya meminta ijin kepada SBY untuk membuka pintu air Manggarai yang akibatnya akan dapat menyebabkan istana merdeka kebanjiran. Permohonan itu mendapat ‘murka’ dari Presiden SBY, yang langsung mengeluarkan statement “Tidak benar bahwa untuk membuka pintu air Manggarai harus mendapat ijin dari saya. Karena sudah sejak tahun 2005, saya sudah ingatkan bahwa kepentingan & keselamatan rakyat harus didahulukan. Tidak apa2 istana kebanjiran, kalau ternyata itu dapat menyelamatkan rakyat” Bravo Pak SBY!! (walaupun setelah pintu air dibuka, istana nggak kebanjiran kok. Yang banjir malah daerah Menteng yang selama ini belum pernah tersentuh banjir)

Semoga gubernur DKI yang akan datang nanti adalah orang yang cerdas & bisa mengambil keputusan yang tepat tanpa harus mencari muka dulu sama presidennya. Tidak guna gubernur yang lebih mendahulukan proyek busway ketimbang melakukan proyek2 pencegahan banjir secara siklus banjir 5 tahunan sudah mengancam di depan mata. Toh pada saat banjir begini, moda transportasi yang pertama kali lumpuh adalah busway!!! Padahal kereta api, bus PATAS bahkan kopaja & metro mini masih bisa digunakan walaupun kurang optimal. Walaupun bete sama proyek busway, bukan berarti gw anti busway sama sekali. Cuma gw melihat sendiri bagaimana terburu-burunya proyek busway itu (mungkin kejar setoran , secara masa jabatan sutiyoso juga sudah hampir berakhir) dimana pengerjaan jalur busway yang ternyata berbanding terbalik sama pengadaan busnya. Mbok ya kompakan aja gitu lho….dibikin dulu busnya yang banyak, baru beresin jalurnya. Bayangkan, dari 250 bus yang direncanakan buat melayani koridor2 baru bus yang tersedia baru 50 buah!! Yang ada malah, di jalanan biasa mobil2 pada macet gara2 jalurnya diambil sama busway eh….di jalur buswaynya juga pelayanannya belum optimal gara2 busnya jarang dan lewat 1 jam sekali. Kesimpulannya, tidak ada solusi sama sekali.

Selama ini kalo ada penggusuran atau penertiban, trantib Pemda DKI selalu muncul dengan aksi brutalnya yang anarkis & tidak berprikemanusiaan  (terakhir malah menewaskan seorang joki 3 in 1 dalam sebuah razia). Dan sekarang saat musibah banjir melanda DKI, apakah mereka nongol buat membantu warganya? Boro-boro, batang hidungnya pun tak nampak. Yang sibuk melakukan evakuasi justru para personil TNI, parpol, LSM bahkan para awak televisi swasta. Trantib Pemda DKI cuma beringas pas melakukan penggusuran, tapi pas ada bencana kayak gini gak ada yang mau turun membantu rakyat.

Aduh….gw udah ngomongin apa saja siy??? Ngalor ngidul gini… (*bingung sendiri*). Udahan aja deh…sebelum postingan gw tambah gak nyambung lagi…hihihi.