Ini cerita 2 minggu lalu sebenarnya, tetapi karena banyak hal yang terjadi minggu kemarin, jadi baru sempat ditulis sekarang deh. Semoga belum terlalu basi…hehehe
Hari Sabtu (24 February), gw mengalami kecelakaan dirumah. Begini ceritanya pintu kamar gw rusak dan gak bisa ditutup rapat. Tapi karena gw ‘ngeyel’ seperti biasa, gw paksa deh supaya pintu itu bisa ditutup. So, gw tariklah gagang pintu itu sekuat tenaga. Ndilalah…gagang pintunya terlepas (karena udah lumayan tua juga gagangnya) dan terlemparlah diriku ke arah belakang dan akhirnya gw terjatuh dengan posisi kepala belakang membentur meja makan tebal dari kayu jati dengan suara yang keras banget (hampir sama kayaknya dengan suara saat bola softball dipukul) yang mengakibatkan seisi rumah berteriak, "Astaghfirullah…"
Gw dalam posisi terlentang berusaha menggerakkan tangan & kaki, Alhamdulillah masih ‘berfungsi’. Dalam hati gw lumayan panik, secara bunyinya yang keras banget itu. Rasa sakitnya justru belum kerasa. Tapi entah kenapa gw nangis, sampai tersedu-sedu (gw bukan orang yang gampang nangis lho! sesakit apa pun sakit yang gw alami nggak pernah nangis). Langsung seisi rumah mengerubungi, dan rame2 memapah gw pindah ke tempat tidur. Karena tangis gw yang tidak kunjung reda, nyokap gw ikut nangis dan bilang "Ayo ke rumah sakit dek, mama takut nih. Dari kecil kau kalo sakit biar parah pun nggak pernah nangis," Gw masih nolak, nggak usahlah. Tapi Dini ikut2an maksa, "Jangan macem2 ya, itu kepala yang kena! Harus diperiksa intensif! Ayo ke Rumah Sakit sekarang."
Akhirnya gw menyerah, mau juga di bawa ke RS. Sepanjang jalan gw masih terus menangis (sekarang gw baru tahu, mungkin tangisan itu firasat bahwa seseorang yang gw sayang akan ‘pergi’. Kejadian itu hanya 3 hari sebelum umak berpulang) dan baru berhenti 5 menit sebelum sampai ke rumah sakit.
Karena ingin nyari rumah sakit yang terdekat dan peralatannya lumayan lengkap (minimal ada CT scan-nya), meluncurlah kami ke sebuah rumah sakit pemerintah di daerah Pasar Rebo. Di sana menuju ke UGD, ngantri di loket. Kata petugas loketnya masuk aja dulu ke ruang UGDnya buat konsultasi sama dokter nanti baru urus administrasinya. Masuklah dakyu ke sana, wuuiiihhh penuh banget! udah kayak bangsal perang aja. Dokter2nya (ada 4 orang, cewek semua) duduk berjajar di meja, pasien yang baru datang mesti lapor dulu ke mereka. Karena 3 meja sudah penuh, gw & nyokap menuju meja yang paling ujung. Dari penampilannya siy dokternya udah lumayan berumur, sekitar 45-an gitu deh. Langsung menyambut gw dengan pertanyaan.
"Ngapain? Udah daftar belum diluar?" tanya si dokter
"Belum dok."
"Daftar dulu sana diluar. Yang sakitnya mana?"
"Saya dok." jawab gw
"Kamu cari sana tempat tidur kosong!"
Gw memandang sekeliling ruangan. Penuh orang sakit, dan gw lihat setiap ganti pasien, seprainya gak diganti alias langsung diisi pasien baru. Ihhhh…jijay! (secara kita kan gak tahu sakit pasien sebelumnya apa. Kalo sakit kulit yang menular kan syerem…!!). Gw memandang lagi ke dokter itu.
"Iya kamu! Sana cari tempat tidur kosong" katanya setengah membentak
Gw langsung bete, tanpa menoleh langsung aja ngeloyor ke luar. Tapi si dokter rupanya belum putus asa. Masih teriak,"Hei….kamu cari sana tempat tidur kosong."
Sampai diluar gw langsung bilang ke nyokap. "Ma pindah rumah sakit aja yuk! males di sini,"
"Udah tanggung. Nggak usah pindah rumah sakit di sini aja" jawab nyokap tegas.
"Dokternya bikin bete gitu,"
"Sudahlah, mungkin dokternya lagi capek. Makanya kayak gitu," jawab nyokap
Setelah selesai proses pendaftaran, kami pun masuk kembali ke UGD. Menuju meja dokter itu lagi. Kali ini dokternya sedikit ramah,"Ayo diperiksa dulu." Kita pun menuju sebuah tempat tidur kosong (yang entah bekas siapa….glek…maaf gw memang sedikit parno kalo sama penyakit)
"Sakit apa?" tanya bu dokter
"Abis jatuh dok, kepala belakang saya membentur meja. Lumayan keras." jawab gw
"Pingsan?"
"Enggak dok…"
"Muntah-muntah?"
"Enggak dok…"
"Terus mau ngapain ke sini?" tanyanya lagi
"Mau periksa kepalanya dok. Mau minta pengantar buat rontgen atau CT scan kalau perlu" jawab nyokap. Soalnya nyokap udah lihat gw mulai cemberut, ya iyalah gw sebel. Gw ke dokter pasti minta diperiksa dong, emangnya mau nyanyi??
"Terus nanti abis dirontgen mau diapain?" tanya si dokter
Gubraks….
"Mau dicek ada kelainan atau enggak dok. Kalau ada kelainan kan bisa segera ditangani," jawab nyokap
Tangan si dokter meraba-raba kepala gw, sambil nanya lagi "Nanti mau berobatnya di mana?"
Gubraks…gubraks….gw & nyokap sama2 bengong, secara kita udah terdampar disini, ya pastilah mau berobatnya di sini. Masak mau berobat di tempat lain??
"Kalau bisa di sini, ya berobat di sini saja," jawab nyokap ‘berusaha’ sabar. Sedangkan gw, sudah mulai cemberut lagi. Mana kepala gw sudah mulai berasa cenut-cenut.
"Oooo….kalo begitu saya buatkan pengantar rontgennya" jawab si dokter sambil beranjak menuju mejanya.
Berbekal surat pengantar, kita pun beramai-ramai (plus Tedi & Dini) menuju bagian radiologi. Sambil jalan gw komentar, "Kok ER-nya kayak gitu ya. Kalo pasiennya sedang sekarat pasti keburu lewat deh!" seru gw. Gw langsung terbayang pasien sesak napas yang pucat pasi masuk UGD bareng gw. Bukannya langsung ditangani, malah ditanya juga "Udah daftar apa belum diluar?" Karena belum daftar, si pasien disuruh tunggu dulu alias belum ditangani, sementara si pengantarnya daftar. Padahal si pasien udah susah banget bernapas, mbok ya di kasih O2 dulu gitu.
Di bagian radiologi cuma sebentar, sekitar 30 menit. Setelah selesai, hasil X-raynya langsung dikasih ke nyokap. Petugas dari radiologi mengantarkan kami kembali ke UGD. Seraya bilang, "Nggak apa2 kok Bu, semuanya normal." Katanya seraya menunjukkan kertas hasilnya. Sementara itu Tedi & Dini sibuk melihat hasil X-ray gw seraya berkomentar, "Serem amat sih tengkorak kepala loe, kecil begini!" dasar tidak sopan! hehehe…..
Sampai di UGD, si Bu Dokter sedang makan. Karena kelamaan nunggu, petugas radiologinya pun kembali ke tempatnya. Tinggalah gw & nyokap duduk manis menunggu Bu dokter.
Saat bu Dokter selesai break makan, dia kembali ke mejanya. "Ini pasien yang mana ya?"
"Yang ini dok," jawab gw sambil menunjuk board yang isinya catatan tentang gw.
"Sudah ada hasilnya?"
"Sudah dok, ini hasil rontgennya?" kata gw seraya menyodorkan hasil xray tadi.
Dokternya pun mengeluarkan hasil rontgen dari amplopnya, dan beranjak menuju ‘papan lampu’ (maaf gw gak tahu namanya) yang buat meriksa hasil rontgen. Tapi cuma ditempel doang sama dokter itu, lampunya belum sempat dinyalakan. Bu dokter langsung nanya ke suster yang ada di sana,"ini udah dibaca belum hasilnya?" suster2 itu cuma menggeleng. Bu dokter memandang gw dan mengulangi pertanyaannya.
Gw jawab, "belum dibacakan dok hasilnya," Memang belum diterangkan toh hasilnya. Bukankah itu tugas dokter?
"Ya sudah kalo gitu kamu, baca nih hasil rontgennya." seru si dokter ke suster yang duduk di dekat dia berdiri. Si suster kaget banget dan langsung menggeleng sambil bilang, "Nggak bisa dok"
Si dokter langsung marah dan kontan membentak ke arah gw & nyokap (tepatnya lagi langsung menunding ke arah nyokap),"Ini pasti gara2 ibu minta buru2. Sekarang juga ibu balik ke radiologi minta dibacain hasilnya sama orang di sana. Nanti kalau sudah dibaca baru balik lagi kemari." katanya seraya melempar hasil rontgen kepala gw ke atas meja.
Nyokap reflek langsung berseru,"Laahawla quwata illabillah…" (saking marah kayaknya). Iyalah…tiba2 ditunding sambil dibentak.
Gw tambah sebel, dalam hati udah pengen banget nanya. Lulusan mana si elo dok, masak disuruh baca rontgen aja panik gitu. Walaupun bukan spesialis radiologi, tapi kan minimal tahu dikitlah hasil Xray yang ’sederhana’.
Gw langsung inget secarik kertas yang tadi ditunjukkan sama petugas radiologi. "Kalau ini apa dok?" tanya gw
"O…iya, ini maksud saya." katanya sedikit malu. Tapi kertas itu cuma dilihat sekilas, terus nanya lagi,"Jadi mau minta obat?"
Gw langsung bergidik, dikasih obat sama dokter yang panik & ngamuk2 saat disodorin hasil rotgen buat diperiksa, no tengkyu deh!! "Nggak usah deh dok," jawab gw sambil tersenyum kecut.
"Ya sudah kalo gitu, berarti pasien menolak diobati" tulisnya di kertas periksa gw.
Biarin aja deh, gw dan nyokap pun langsung keluar. Gw…(reflek, karena udah kebiasaan) sempet2nya bilang "Terima kasih Dok…" tapi ternyata dicuekin sama tuh dokter. Weleh…weleh….sutralah
Alhamdulillah kepala gw gak apa2, cuma gw jadi sedikit shock nih dengan pengalaman di RS. Kok kayak gitu ya dokternya? Secara selama ini, gw & keluarga selalu berurusan dengan dokter2 yang ramah & baik hati. Ternyata gosip kalo pelayanan di RS pemerintah itu kurang friendly memang ada benarnya…hiks walaupun gw percaya banget, gak semua dokter di RS pemerintah kayak gitu. Mungkin memang gw aja yang lagi apes, secara itu adalah my ‘apes’ day…hihihi