DEBET KARTU KREDIT
Wednesday, June 20th, 2007Ini cerita 2 bulan lalu, saat gw lagi keluar sebentar dari meeting buat ketemu tamu ternyata ada seorang tamu lain lagi yang nunggu. Agak sedikit ngotot dia.
"Mbak…boleh minta waktunya sebentar saja. Penting." kata seorang pria berpakaian rapi & berdasi. Gw langsung mengernyitkan dahi, penting? perasaan gw gak bikin janji sama orang itu deh.
"Maaf ya Mas, saya lagi meeting. Ini keluar juga cuma mau ketemu bapak ini sebentar" kata gw sambil menunjuk tamu gw. Dia lantas menunggu. Setelah urusan gw kelar, dia jegat gw lagi.
"Sebentar saja mbak. Saya dari WWF" katanya.
"WWF?" tanya gw bingung. "Ada apa ya?"
"Boleh saya jelaskan mbak?"
"Boleh deh, tapi sebentar aja ya. Saya buru2 soalnya, mesti ikut meeting lagi" jawab gw.
Dia pun lantas menjelaskan apa itu WWF (World Wild Fund maksudnya, bukan WWF smack down itu hihihi..) ya begini2 dirikyu tahu lah apa itu WWF jadi agak2 boring deh dengan penjelasan itu. "Terus hubungannya apa mas?" potong gw sembari melihat jam tangan (ini sebetulnya gerakan agak hiperbola, supaya kelihatan buru2…hihihi)
"Begini mbak, WWF sekarang tengah mengadakan program pendidikan untuk anak2 putus sekolah….bla…bla…dan (langsung aja ya) dengan menyumbang Rp 4500/hari atau Rp135.000/bulan anda sudah bisa menyumbang mereka. Caranya mudah, cukup dengan mencantumkan nomer kartu kredit visa atau master yang mbak punya, maka kami akan langsung mendebetnya dari sana"
Gw langsung berjengit…hiy….enak aja main debet2 seenaknya dari kartu kredit. Gimana coba kalo salah debet, dan terdebet sampe ke limitnya. Bisa mabok gw bayar tagihannya! "Waduh maaf ya Mas, sepertinya saya tidak bisa ikut program ini" kata gw.
"Memang sih mbak jumlahnya tidak sedikit." katanya bernada ‘menurut gw’ sedikit melecehkan. Maksudnya mungkin supaya gw ‘panas’ dan bilang, jumlah segitu mah keciiillll kali ya? hihihi…maap, gw orangnya cuek bebek. Jadi tidak terpancing.
Sekalian aja gw bilang gini,"Memang jumlahnya besar & tidak sedikit buat saya mas. Dan lagi saya bukan orang yang sembarangan ngasih2 info & data soal kartu kredit saya ke orang tak dikenal."
Si masnya langsung gak enak, dan bilang "Tapi sistem kita ini sudah terbukti aman kok mbak…bla…bla…"
Gw cuma senyum manis, dan si mas itu pun akhirnya pamit.
Beberapa minggu lalu, ada orang berdasi datang lagi. Salah seorang temen gw bilang "Mbak, ada orang nyari mbak Irma. Katanya dari Yayasan Jantung Indonesia"
"Yayasan jantung? dalam rangka apa ya?" tanya gw keheranan. Secara merasa tidak pernah berhubungan dengan yayasan ini.
"Maaf mbak, aku juga belum nanya. Tapi katanya mau ketemu sama mbak Irma. Soalnya dia bilang gitu" kata (you know who deh di kantor ini yg suka bilang maaf…hihihi)
Halah…mau ngumpet di kolong meja udah nggak bisa. Nolak pun pasti ketahuan, secara tuh orang udah ngeliat gw. Ya sutrah gw samperin deh. "Ya, ada apa mas?"
"Maaf, dengan mbak siapa saya berbicara?" tanya si mas. Halah…halah…katanya mau ketemu gw! Kok nama gw aja dia gak tahu!!
"Irma…" kata gw sedikit bete. Perasaan gw mulai gak enak.
"Boleh saya masuk mbak?" katanya. Ya gimana mau nolak, wong berdirinya aja udah di depan pintu ruang meeting gitu.
"Silahkan…"
"Saya kebetulan sedang lewat di daerah sini. Rasanya wajah mbak Irma ini cukup familiar yah? Pernah muncul di mana mbak?" tanyanya lagi.
Gw langsung tambah bete, "Tidak pernah muncul di mana-mana" jawab gw singkat. Walaupun gw pernah masuk tipi…hihihi…tapi gw yakin gak akan segitu bekennya!
"Bagaimana kesehatan mbak?"
"Alhamdulillah…Baik-baik saja"
"Punya masalah dengan jantung?"
"Alhamdulillah tidak"
"Bagaimana pola makan mbak?"
"Cukup teratur dan sehat kok" agak2 ngibul sebetulnya. Secara gaya makan gw agak2 serampangan.
"Eemmm…" si mas agak bingung, kehabisan pembicaraan sepertinya. Eh dia langsung menerangkan program2 yayasan jantung Indonesia, yang salah satunya membantu pendidikan anak2 tak mampu dan sumbangannya bisa dilakukan lewat debet kartu kredit langsung, persis kayak yg waktu WWF dulu itu.
Gubraks….ternyata tujuannya sama aja toh? Kok pake muter2 segala. Gw ulang lagi statement gw yg dulu. Eh si mas tidak kurang akal, dia langsung memberikan sederet data. Yang intinya sistem ini aman, dan sudah banyak dilakukan di negara lain. Mungkin sistemnya bisa jadi memang aman, gwnya aja yang terlalu negative thinking. Tapi karena merasa nggak nyaman terhadap sistem tersebut (dimana setiap bulan kartu kredit kita akan otomatis didebet, gimana coba kalo kita tiba2 pengen stop. Pasti rese banget deh prosesnya) makanya gw memutuskan nggak mau ikutan. Gw sempet nanya, kenapa nggak pake sistem cash atau transfer via bank aja, si mas malah bilang nggak ada program kayak gitu. Yang ada cuma debet melalui Kartu Kredit. Ya sutrah…..bye…bye…deh




